Sejarah Desa

fb_img_1471418157239

Diceriterakan di sebelah utara pancuran peuteuy, ada satu perkampungan yang dikenal dengan nama Kampung Sudahanten. Pada zaman itu, dikisahkan di kampung ini rakyatnya masih melaksanakan adat istiadat warisan leluhur Sunda, yaitu jika memperoleh hasil panen harus pergi ke Kerajaan Cirebon guna menyerahkan upeti berupa hasil pertanian untuk Sultan/Raja. Di setiap pekarangan rumah warga Kampung Sudahanten, tumbuh pohon pisang, yang dalam bahasa Jawa disebut gedang. Oleh sebab itu, rakyat Kampung Sudahanten menjadikan pisang sebagai upeti kepada Raja/Sultan Cirebon. Karena banyaknya pisang yang dikirimkan ke Kerajaan Cirebon, sampai-sampai tidak habis termakan, lantas sisanya dibuat sala¨ yaitu pisang yang diawetkan. Satu waktu, Raja berbicara kepada yang membawa upeti, yaitu Bapa Soleh: “Besuk jaganing geto kampung Sudahanten namina digentos ku Desa Salègedang (mulai besok, Kampung Sudahanten namanya diganti menjadi Desa Salègedang).”

Bapak Soleh dijadikan kepala Desa (kuwu) Salagedang oleh Raja Cirebon untuk memimpin Desa Salagedang. Mengingat Bapa Soleh kini telah meninggal dunia, untuk menghormati jasa-jasanya dan mengenalkan kepada generasi muda, dibuatlah makam Bapa Soleh yang disebut Mbah Buyut Rurah yang terletak di Tanjakan Jaha Salagedang. Ada sebagian yang menyebutkan asal muasal nama Desa Salagedang, di Kampung Sudahanten ada kejadian aneh yaitu batu terbelah menjadi dua, dimana di sela-sela batu tersebut tumbuh pohon pisang (gedang). Melihat kejadian ajaib demikian, rakyat kemudian melaporkan kejadian ini kepada Kerajaan Cirebon. Raja memerintahkan pisang tersebut dijadikan sebagai upeti, kemudian Kampung Sudahanten diganti namanya menjadi Desa Selagedang. Sejak saat itulah hingga sekarang Desa Selagedang kemudian dikenal dan disebut Desa Salagedang.

Pada hari selasa wage tanggal 3 mei 1983 Desa salagedang dilakukan pemekaran alias pembagian wilayah administratif desa menjadi dua desa yaitu desa Salagedang dan Desa Tanjungsari. Desa Tanjungsari merupakan pecahan dari desa salagedang yang pada saat itu dipimpin oleh pejabat sementara yaitu Bp. Mahdi yang pada saat itu menjabat sebagai sekretaris Desa Salagedang. Beliau menjabat hanya 7 bulan sampai akhirnya terpilih calon kepala Desa Tanjungsari bernama bapak Diding Rosidi. Masa jabatan bapak Diding Rosidi mulai tanggal 13 desember 1984 sampai dengan tahun 2002 yang kemudian dilanjutkan oleh kepala Desa terpilih yaitu Bapak Drs. Didi Suryadi. Beliau menjabat sebagai kepala Desa Tanjungsari sampai tahun 2012 yang akhirnya dilanjutkan lagi oleh kepala desa terpilih yaitu Bapak Tasrip sampai sekarang.

Mengenai sejarah nama desa Tanjungsari menurut informasi dari sesepuh, kata Tanjungsari ini diambil ketika diadakan rapat akbar untuk menentukan nama desa yang baru pemekaran dari desa Salagedang ini. Saat itu Toma ( H. Khoerudin ) mengusulkan nama desa yang baru terbentuk ini dinamakan desa Tanjungsari. Beliau menjelaskan nama Tanjungsari ini diambil dari nama pohon Tanjung yang pada saat itu banyak tumbuh disawah yang ada di wilayah timur desa Salagedang yang kemudian sawah ini dilakukan perombakan menjadi pasar pada tahun 1974 dengan nama pasar Tanjung, dan akhirnya nama Desa ini disetujui berdasarkan para tokoh yaitu Desa Tanjungsari.

Moto desa Tanjungsari yaitu “Ngahiji Ngabakti Kanagari“ yang diharapkan seluruh masyarakat desa Tanjungsari dapat secara bersama – sama berbakti membangun negeri ini.

Silsilah Kepala Desa (Kuwu) Salagedang

  1. Embah Soleh (Buyut Rurah) 1735 – 1765
  2. Mukarab 1765 – 1795
  3. Anggajaya 1795 – 1820
  4. Tajong 1820 – 1855
  5. Nursa 1855 – 1880
  6. Natawijaya (Kasni) 1880 – 1906
  7. Zen 1906 – 1946
  8. Embah Hormat (Natawijaya) 1946 – 1956
  9. Natapraja (H. Abdul Majid) 1956 – 1966
  10. Abdul Fatah (H. Abdul Ghani) 1966 – 1978
  11. Baing Natawijaya 1978 – 1988

Silsilah Kepala Desa (Kuwu) Tanjungsari

  1. Mahdi 1983 ( PLT )
  2. Diding Rosidi, S.Ip. 1984 – 2002
  3. Didi Suryadi 2002 – 2012
  4. Tasrip 2012 – sekarang